Riwayat Kehamilan Dengan Preklamsi berulang.
Genap tiga bulan sudah emak baby Ey, stay di rumah. Dihitung hitung usia baby Ey masih sekira 37 postmenstrual. Artinya si baby Ey masih dianggap belum lahir sama dokter. Baby Ey juga baru bersatu dengan momynya sekira seminggu.
Yap, baby Ey lahir di usia kehamilan 30minggu. Dibilang lahir sepertinya terlalu indah. Mungkin lebih tepatnya Baby Ey di terminasi kehamilan di usia 30 minggu. Kenapa di terminasi? Well si momy ternyata mengalami lagi sejarah preklamsi dan HELP sindrom.
Sedikit flashback, kehamilan baby Ey adalah kehamilan ke-tiga. Waktu hamil pertama baby Kai, momy merasa hamil yang sangat indah. Baby Kai lahir sesar dengan usia kehamilan 37-38 minggu beratnya 3.4 kg. Sesar karena pecah ketuban duluan, tapi selama hamil tidak terindikasi masalah. Kehamilan ke -dua dengan rentang empat tahun, terjadi tahun 2017 kemarin. Herannya selama cek kehamilan tiap bulan tidak ada masalah apapun. Hanya saja di usia hamil 27 minggu, si momy ngerasa flu parah. Karena takut, larilah ke klinik dan.... tidak boleh pulang karena tensi 200/112. Cek lab proteinurin sudah +2. Walhasil dirujuk opname dengan diagnosa PEB dan HELP sindrom. Seminggu opname, baby Nara terpaksa di keluarkan karna diindikasi plasenta sudah tidak menghantarkan makanan maupun oksigen. Baby Nara lahir 1.1 kg, dan di rawat di NICU. Baby Nara bertahan hanya 4hari.
Berbekal pengalaman kelahiran baby Nara, si dokter wanti wanti supaya kehamilan di atur jaraknya dan kalau terpaksa hamil lagi harus segera mencari Dokter fetomaternal. Alasan dari dokter, preklamsi bisa lebih buruk terjadi pada kehamilan selanjutnya.
Namanya juga rejeki, belum sempat mengikuti saran dokter untuk mengatur jarak kehamilan, delapan bulan sejak Baby Nara lahir, si momy sudah isi lagi. Takut, cemas dan khawatir pasti ada. Trauma yang jelas masih terbayang dengan semua pengobatan preklamsi sebelumnya. Tapi ingat banget sama nasehat dokter di RS Premier BIntaro: justru ibu harus enjoy, ngga boleh setres supaya tubuh ibu mengeluarkan hormon yg baik baik.
Dan dimulailah perjalanan berburu dokter fetomaternal. Sejak kehamilan masih 1-4 bulan semua nampak normal. Tensi terjaga, morningsick juga tidak separah kehamilan ke dua. Berburu dokter fetomaternal bisa satu bahasan sendiri. Jakarta tangerang bekasi... Yang dituju dari awal dokter RS prrmier bintaro Dr. Didi Danukusumo. Tapi memang belum jodoh, setiap mau ikut antri pasti sudah di kepala 20. Lumayan jadwal fetomaternal selalu penuh. Antri bisa dari subuh padahal by phone.
Entah karena diusia kehamilan 6bulan sudah ada tanda tanda tensi naik, jadilah suami merekomendasi dokter Eva. Praktek beliau di fatmawati dan di Depok.
Karena sudah lelah, akhirnya kami memilih fatmawati. Dengan pertimbangan, jika seandainya preklamsi si momy menyebabkan perburukan dan harus segera di terminasi di usia kandungan dibawah 37minggu, berarti si dedek bakalan membutuhkan juga fasilitas NICU. Dengan pertimbangan ini dan itu jadilah kami fix ke fatmawati.
Baby Ey, lahir tanggal 7juni kemarin. Sebelum proses terminasi di ambil, si momy sebulan di rawat konservatif. Tidak perlu ditanya, selama sebulan itu treatmennya apa saja. Air mata, darah, energi pikiran sudah tumpah ruah. Tata laksana MGSO4, cek darah berulang, usg Feto, suntik pematang paru, infus amino fluid yang sakitnya minta ampun sudah dijalani.
Baby Ey secara umum dibilang sehat, hanya dokter menyebut noching sudah di angka 14. CTG detak bayi sudah hilang timbul penyempitan saluran darah sudah diangka 12( istilah kedokteran bisa jadi salah karena saya hanya mendengarkan saja saat sesi pemeriksaan) . Tapi dokter Eva tetep yakin si momy masih kuat. Amino fluid ditambah supaya bobot bayi bisa naik di taraf aman yaitu lebih dari 800gram. Dan tepat tanggal 6Juni dokter Eva melihat ada endapan darah di urin kateter. Walhasil beliau langsung menjadwalkan terminasi kehamilan melalui sesar.
Sehari kemudian, momy didorong ke ruang operasi. Tensi yang selama sebulan berhasil di tekan dengan dopamet dan niphedipin ke angka 120, tiba tiba melonjak. Di ruang operasi tensi mencapai 200/120. Dua operasi sesar sebelumnya hanya butuh paling lama satu jam, tetapi sesar ke tiga memakan waktu 3.5 jam. Sempat mendengar percakapan sesama dokter yg intinya apakah yakin dengan tensi setinggi itu akan tetap dilanjut operasinya. Lagi lagi dokter Eva menguatkan dengan minta supaya tenang dan doa. Hasilnya memang terjadi pendarahan tetapi prosesnya selesai juga. Karena takut momy masih di fase kritis, Dokter Eva meminta supaya momy di inapkan di Highcareunit (HCU). Sehari di inapkan dengan kemungkinan kejang, akhirnya tepat 24jam momy dipindahkan ke bangsal perawatan. Sisanya perawatan antibiotik dan suntik anti sakit diberikan sampai momy pulang di hari ke 5.
Bagaimana dengan baby Ey?ketika momy pulang, baby Ey masih berjuang di NICU. Lahir dengan berat 1.1 kg panjang 38 cm, baby Ey masuk dalam inkubator, selang infus terpasang di tangan, tombol saturitas dan tensi di ke dua kaki, CPAP, dan panel yg ditempel di dada untuk tau detak jantung.
Cerita dedek Ey saat di NICU bahasan sendiri saja.
Mommie dengan riwayat preklamsi bisa dipastikan kecenderungan preklamsi bakalan muncul di kehamilan selanjutnya. Lalu apakah kelahiran prematur akibat preklamsi juga akan berulang?
Sejauh yang saya fahami, saat baby nara lahir dan meninggal, saya diwanti wanti dokter agar hamilnya di beri jarak dulu, lalu berat badan diturunkan, makan makanan gizi dan detoksifikasi serta antioksidan, yang terpenting jika sudah ketahuan hamil segera mencari dokter fetomatarnal. Kenapa? Well, bisa jadi mommie yang masih hamil muda bisa dapat obat aspilet (pengencer darah). Calsium tinggi, vitamin D dan tentunya protein untuk menambah berat badan janin seperti susu peptisol atau aminofluid dan tentu saja obat tensi untuk menekan darah tingginya. Obat obatan yang saya sebutkan harus dengan resep. Yang ingin saya tekankan di sini adalah, dokter fetomaternal yang betul betul faham apa yang menjadi prioritas dari pasien preklamsia. Termasuk tumbuh kembang janin di dalam rahim si mommie.
Di logika awam saya jika tertangani dokter fetomaternal dan ada penanganan sejak awal hamil setidaknya bayi bisa lebih lama dipertahankan di dalam rahim. Kasus dedek Nara yang sama sekali tidak diketahui diagnosa preklamsianya hanya bertahan di kehamilan 26minggu dan meninggal. Sementara dengan dedek Ey, bisa dipertahankan sampai 30minggu dan alhamdulillah sehat sampai tulisan ini ditulis.
So, preklamsi pada prinsipnya harus rutin di pantau ya mommies.....
Komentar
Posting Komentar